Untukmu alumni Ramadhan

Bulan ramadhan disebut dengan madrasah oleh para ‘ulama, sebuah madrasah besar untuk menempa jiwa dan mengolah nafsu menjadi aliran ketaatan seorang hamba.

Sejatinya, ia menciptakan aura keshalehan dalam satu bulan, sehingga setiap hamba berlomba-lomba di dalam ketaatan di bulan mulia.

Tetapi ketika ramadhan telah pergi, setidaknya bagi alumninya menyisakan tiga tugas yang harus di tunaikan.

1. Ramaikan dengan doa

Doa yang penuh dengan harapan, bahwa seluruh ketaatan kita diterima oleh Alloh, karena sungguh menjadikan amal diterima oleh Alloh sangatlah sukar dan begitu sulit

Jangan menepuk dada dengan sombong bahwa kita telah dijamin terampuni dari bulan ramadhan, karena tak ada jaminan bahwa kita otomatis diampuni setelah rangkaian panjang ibadah di bulan ramadhan.

“Mreka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan. Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima oleh-Nya.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 232).

Tidaklah air mata para salaf menetes kecuali karena ditinggalkan ramadhan dan ketidak pastian tentang status amal mereka, kalolah para salaf meramaikan doa mereka tentang permohonan diterimanya amal, terlebih kita.

“Ya Rab kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah 127).

2. Menjadi muslim dalam segala musim

Bulan ketaatan bukanlah hanya di bulan ramadhan, tapi ketaatan ialah dalam segala musim, karena sejatinya seburuk-buruk manusia ialah yang hanya mengenal Alloh hanya dibulan Ramadhan

Amal yang diterima bagaikan magnet karena ia menarik pada ketaatan yang lebih besar.

“Diantara balasan bagi amalan kebaikan adalah amalan kebaikan yang ada sesudahnya. Sedangkan hukuman bagi amalan yang buruk adalah amalan buruk yang ada sesudahnya.” (Al Fawaa-idhal. 35).

”Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 244).

Maka tak pelak lagi, maka siapapun yang ramadhannya diterima oleh Allah, maka hatinya akan bersungguh-sungguh melanjutkan estafet ibadahnya sebagaimana ia menggoresnya di bulan ramadhan.

Tak perlu masjid kembali sepi, Mushaf kembali diletakkan dan sholat malam kembali sunyi.

3. Hidupkan rasa takut dan khwatir

Wahb ibnul Wardi pernah melihat sekelompok orang yang bersuka cita dan tertawa di hari ‘Iedul Fitri. Beliau pun lantas mengatakan, “Apabila puasa mereka diterima di sisi Allah, apakah tindakan mereka tersebut adalah gambaran orang yang bersyukur kepada-Nya. Dan jika ternyata puasa mereka tidak diterima, apakah tindakan mereka itu adalah gambaran orang yang takut akan siksa-Nya.” (HR. Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab nomor 3727, Lathaaiful Ma’arif hal. 232).

Jangan terlalu gembira dan merasa yakin dengan pahala ramadhan pasti telah diterima, tapi berusahalah wahai jiwa untuk menumbuhkan rasa khawatir dalam sanubari tentang apa yang telah kita perbuat, hingga rasa khawatir itu menambah energi untuk melanjutkan ibadah dengan ibadah sunnah yang sudah menanti.

”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al Mukminun: 60).

Ummul Mukminin, ’Aisyah radliallahu ‘anha ketika mendengar ayat ini, beliau merasa heran dikarenakan tabiat asli manusia ketika telah mengerjakan suatu amal shalih, jiwanya akan merasa senang. Namun dalam ayat ini Allah ta’ala memberitakan suatu kaum yang melakukan amalan shalih, akan tetapi hati mereka justru merasa takut. Maka beliau pun bertanya kepada kekasihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka orang-orang yang meminum khamr dan mencuri?”

Maka rasulullah pun menjawab, ”Tidak wahai ’Aisyah. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menegakkan shalat dan bersedekah akan tetapi mereka merasa takut amalan yang telah mereka kerjakan tidak diterima di sisi Allah. Mereka itulah golongan yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan.” (HR. Tirmidzi nomor 3175. Imam Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahihut Tirmidzinomor 2537).

Layaknya siswa ketika akan menghadapi ujian nasional, ketika rasa takutnya muncul maka ia menggenjot usaha untuk terus belajar dan belajar

Alumni ramadhan yang takut serta khawatir maka ia akan meneruskan estafet ibadahnya dengan ibadah kembali.

Banyak amalan yang sudah menanti, puasa syawal, membaca Al Quran, dll.—-Ust. Oemar Mita

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *