Toleran dengan Kekurangan Pasangan

Tidak ada seorang suami atau seorang isteri yang sempurna. Semua manusia memiliki kekurangan dan kelemahan.

Banyak sekali kekurangan yang sangat manusiawi, namun ternyata memicu pertengkaran suami dengan isteri, atau orang tua dengan anak. Hanya karena kurang bisa mendengar dengan jelas apa isi omongan suami, sang isteri dimarahi oleh suami dengan berlebihan, bahkan ditambah dengan kata-kata celaan dan makian.

“Dasar tuli. Punya telinga apa tidak sih ? Aku sudah berteriak kamu tetap tidak mendengar omonganku”, ungkap suami dengan ketus.

Tentu saja itu adalah kata-kata yang tidak proporsional dan berlebihan. Bukankah sangat manusiawi kalau isteri kadang tidak mendengar dengan jelas kata-kata suami, karena ia lagi sibuk mengurus anak, atau di rumah sedang bising karena suara televisi, atau karena suami bicaranya memang kurang jelas.

Hanya karena suami tidak segera memenuhi permintaan isteri untuk membantu urusan dapur, isteri marah-marah dan akhirnya mendiamkan suami beberapa hari. Contoh-contoh tersebut sering terjadi dalam kehidupan keluarga, yang menandakan rata-rata kita kurang toleran terhadap berbagai kekurangan yang ada pada pasangan. Hanya karena persoalan kecil, bisa meledak menjadi pertengkaran dan konflik berkepanjangan, yang tentu saja sangat tidak produkif.

Maka bersikaplah toleran terhadap kekurangan dan kelemahan pasangan. Bukan berarti tidak melakukan usaha perbaikan, namun sekuat dan sehebat apapun usaha kita untuk menjadi baik dan sempurna, tetap saja kita memiliki kekurangan dan kelemahan. Tidak ada manusia sempurna, apalagi dalam konteks komunikasi dan interaksi sehari-hari. Selalu saja ada titik-titik singgung yang tidak sesuai harapan.

Kadang suami menghendaki isterinya cepat mengerti tanpa harus banyak dijelaskan, demikian pula isteri menghendaki suami cepat tanggap tanpa harus diminta. Keinginan seperti ini sering tidak menjadi kenyataan, sehingga berbuntut pikiran negatif kepada pasangan.

“Isteri saya memang telmi. Kalau diajak bicara tidak pernah nyambung”, kata seorang suami kepada temannya.

“Suami saya tidak memiliki rasa kepedulian sama sekali terhadap urusan rumah tangga. Saya sampai jungkir balik mengurus keperluan rumah tangga, ia santai dan malah duduk saja di depan televisi”, keluh seorang isteri.

Ya, itulah contoh persoalan-persoalan kecil yang selalu muncul dalam kehidupan keluarga, yang bermula dari kekurangan dan kelemahan kita sebagai manusia. Maka toleranlah terhadap adanya kekurangan dan kelemahan pasangan, agar tidak meributkan hal-hal sepele yang muncul darinya.

Semua dari kita pasti memiliki kekurangan dan kelemahan, berdamailah dengan kondisi itu.

-Cahyadi Takariawan-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *