Teramat tipis

Yang tipis bukanlah kain sutra, tapi yang tipis di atas muka bumi ialah batasan antara hidup dan mati, kegembiraan dan kesedihan, bahkan antara derai tawa dan air mata.

Sejenak, kadang kita merangkul yang kita cintai dan sayangi dalam pelukan hangat pertemuan, tapi dalam sekejap mata kita memeluknya dalam derai air mata berhangatkan kain kafan mengantarnya ke liang kubur.

Terkadang pijar mata kita memancarkan kebahagiaan meraih asa tapi dalam hitungan jari, derai tawa berganti kesedihan berbalut tetesan air mata

Terkadang pula ayunan langkah hidup begitu ringan tapi tak lama berganti dengan lapisan kesulitan

Layaknya nabi Yaqub ketika ia bersuka cita memiliki Yusuf, anak yang begitu sholeh mentaati Alloh dan ayah bunda, tiba-tiba ia kehilangan Yusuf serta penglihatanya.

Itulah tipisnya segala rasa didalam hidup, sehingga tak ada daya upaya untuk mengaturnya sesuai kehendak hati, walopun sekejap.

Maka titipkanlah segala rasa itu kepada pemilik segala hati seluruh hamba, sebagaimana lisan nabi Musa berucap, “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. (Surat Ghafir 44)

Selimuti kami dalam hangatnya untaian doa kalian

Baarokallah fikum
La tansana min duaikum—-Ust. Oemar Mita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *