Sehalus-halus penolakan adalah yang menciptakan perenungan dan menerbitkan keinginan di ufuk hati si tertolak untuk memperbaiki diri lagi.

“Maaf, kamu terlalu baik buat akuh.” adalah penolakan yang buruk. Sebab, itu tak membuat si tertolak merasa perlu memperbaiki diri, toh sudah terlalu baik, kan?

Maka, jawaban yang–sepertinya baik untuk menolak para pemberi janji-janji adalah, “Duh, maaf, gak suka dijanjikan yang belum pasti, seberkomitmen apapun kamu hari ini. Allah mudah membolak balik hati, gak ada yang bisa jamin perasaanmu akan tetap sama nanti. Lagian, belum kepikiran sampai ke sana.

Aku ingin bebas dari keterikatan apa pun, kamu juga. Aku tidak menolak, tidak juga menerima. Siapa pun yang menjadi jodohku di depan ditentukan komitmennya saat akad. Sebelum itu, bahkan lima menit sebelum akad, bisa jadi cuma nafsu aja. Apalagi jauh-jauh hari.

Jadi, silakan perbaiki diri dulu, banyak yang lebih baik daripada aku; pun yang lebih baik dari kamu.

Kamu bebas memilih kalau gak ada keterikatan sama seseorang. Begitu pun aku, ingin bebas menerima siapa saja yg menurutku baik dan bisa sama-sama meraih keberkahan.”

Banyak yang merasa siap, padahal tidak. Selamat menolaki pejanji-pejanji kepagian, kawan.

*Tausiyahku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *