MINAL AIDIN WAL FAIZIN (?)

Kalimat “Minal aidin wal faizin” sering diucapkan orang ketika hari raya Idul Fitri. Kalimat itu sendiri artinya adalah “Dari orang-orang yang kembali dan beruntung.”

Telah menjadi tradisi masyarakat muslim Melayu sejak dahulu kala sampai sekarang dan diamini oleh para ulama bahwa apabila tiba hari raya Idul Fitri mereka mengucapkan kalimat itu. Belum ditemukan satu pun ulama yang melarang pengucapan ini.

Baru di zaman ini saja muncul sebagian orang yang terlalu bersemangat dalam beragama tapi sangat ekstrim (tasyaddud) yang mempermasalahkan ucapan itu.

Alasannya cuma sepele, katanya: “Kita mau kembali ke mana? Apa pada ketaatan atau maksiat?”

Sebenarnya pertanyaan ini tidak perlu muncul. Apakah dia tidak sadar bahwa kata “Iedul Fitri” itu sendiri artinya “kembali fitri”?

Sebagian ulama mengartikan kata “fitri” dengan “makan dan minum” lawan kata dari puasa. Sebagian lain mengartikannya sebagai fitrah yang artinya suci. Dua-duanya benar dan beralasan.

Dari kata “ied” (kembali) itulah muncul “aidin” (orang-orang yang kembali).

Sedangkan kata “faizin” yang berarti “orang-orang yang beruntung” ini merupakan ungkapan doa semoga kita semua termasuk bagian dari mereka.

Dalam Al Quran sering disebutkan kata “keberuntungan yang besar” sebagai balasan bagi orang-orang yang beriman.

قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (QS. Al-Maidah: 119)

Jadi maksud dari kalimat “minal aidin wal faizin” adalah doa agar kita semua termasuk orang-orang yang berhari raya (kembali kepada fitri) dan termasuk orang-orang yang beruntung.

Jadi sangat berlebihan orang yang mempermasalahkan ucapan itu hanya karena ucapan itu tidak ada dalam Al Quran maupun Sunnah. Padahal ini hanyalah adat semata dan tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Maka ini juga bagus dan boleh-boleh saja, tapi tidak wajib, meskipun ucapan ini juga tidak dikenal di zaman Nabi SAW.

Ketika seorang muslim bertemu dengan sesama muslim pada momen Idul Fitri, para sahabat Nabi mencontohkan untuk mengucapkan selamat hari raya dengan ucapan sekaligus doa

“Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian)

“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bertemu di hari raya, mereka mengucapkan kepada sebagian lainnya: taqabbalallahu minna wa minka,” tulis Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab Fathul Baari.

Semua itu hanyalah perihal kebiasaan. Tidak perlu diperdebatkan.

Syaikh Utsaimin sendiri pernah mengatakan, “Tidak ada ucapan tertentu saat itu. Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung kesalahan (dosa).”

Lalu mengapa sebagian orang itu terlalu bersemangat memperdebatkannya?

———-

Wallahu a’lam
Abul Faruq Danang Kuncoro W (+ sedikit tambahan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *