[MENIKAH, BUKAN KOMPETISI]

Aku tidak pernah melihat menikah sebagai sebuah kompetisi.

Kau tahu artinya?

Pertama, aku tidak akan menikah karena orang-orang sudah banyak yang menikah. Teman-temanku menikah, junior-juniorku di sekolah atau di kampus menikah, atau karena adikku juga ingin menikah.

Aku akan menikah karena aku tahu, pada suatu titik, aku tak akan mampu sendiri menjaga diri. Dan karena Allah mengetahui itu, Dia sudah aturkan cara sedemikian rupa untuk mempertemukan aku dengan jodohku.

Kedua, aku tidak akan bersaing dengan siapapun, mengenai hal apapun. Termasuk perkara ini. Siapa yang menikah lebih dulu. Siapa yang calon pasangannya lebih ‘WAH’. Siapa yang pernikahannya lebih mewah. Siapa yang kemudian punya anak lebih dulu. Siapa yang rezekinya paling banyak setelah menikah. Apalagi siapa yang tampak paling bahagia di media sosial. Tidak ada.

Satu-satunya sainganku adalah diriku sendiri. Aku hari ini harus lebih baik dari aku kemarin. Aku besok harus lebih baik dari aku hari ini. Semakin bersyukur, semakin bahagia.

Termasuk tentang jodoh, kutekankan bahwa aku.. tidak akan pernah bersaing dengan siapa-siapa.

Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Dengan atau tanpa persaingan, setiap manusia tetap saja akan bertemu dengan takdir pasangan hidupnya.

Aku tidak sedang berkompetisi tentang urusan pernikahan.

Aku hanya punya satu ukuran kebahagiaan, yaitu bersyukur sebanyak-banyaknya. Dan aku hanya punya satu ukuran perjuangan, yaitu berdoa sekuat-kuatnya, serta segenap daya mewujudkannya.

– Febrianti Almeera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *