Ba’da subuh tadi ane teringat kisah tentang kaum Anshar pasca perang hunain..

Para petinggi kaum yang saat itu kasak-kusuk tentang pembagian harta rampasan perang,
Rasulullah ternyata membagi semua ghanimah itu pada kaum Quraisy dan kabilah-kabilah arab lainnya, tanpa menyisahkan sedikitpun untuk kaum Anshar.

Sesampai dikalangan Anshar terdengar gosip bahwa Rasulullah telah menemukan kaumnya, Sang Nabi telah lupa dengan Anshar yang mati-matian ikut berjuang. Semua berita dan gosip itu menyebar ke seluruh kaum, hingga akhirnya sampai ke telinga sang Rasul, bahkan Rasulullah pun sedikit shock dan sedih mendengarnya, namun taukah kita, kawan, apa yang dilakukan Sang Nabi saat itu?

Rasulullah mengumpulkan kaum Anshar ditempat yang khusus, kemudian beliau berkhutbah dengan khutbah yang cukup panjang, khutbah yang membuat seluruh kaum Anshar menangis tersedu, khutbah yang membuat mereka menyesali perkataan-perkataan itu, khutbah yang didlamnya tersimpan kekecewaan dan kesedihan, namun dibalut dengan kelembutan dan rasa cinta yang mendalam.

“Wahai kaum Anshar”, kata Nabi saw., “Apakah kalian jengkel karena tak menerima sejumput sampah keduniaan yang tidak ada artinya? yang dengan ‘sampah’ itu, aku hendak menjinakkan suatu kaum yang baru saja memeluk Islam, sedangkan kalian telah lama berislam.”

“Duhai kaum Anshar,”, lanjut baginda saw., “Apakah kalian tak puas melihat orang lain pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasul Allah?”

“Demi Allah, apa yang kalian bawa pulang itu lebih baik daripada apa yang mereka bawa.”

“Demi Allah yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, andai bukan karena hijrah, niscaya aku menjadi salah seorang dari Anshar. Karena itu bersabarlah hingga kalian berjumpa denganku di telaga surga.”

Masya Allah. Semua kisah, setiap laku, bahkan sehelai daun yang jatuh dari tangkainya pun semua tak luput dari skenario Allah,
Maka yakinlah, apa yang terjadi, Allah telah mengaturnya dan semua tergores indah di Lauh mahfudzNya. Tugas kita, hanyalah terus bersabar, ikhlas, dan berhusnudzon, tak perlu larut dalam kesedihan apalagi kekecewaan terhadap dunia.

Allah lebih tau,
Mungkin belum saatnya kita terkenal di depan khalayak.

Allah lebih tau,
Mungkin jika sejumput sampah dunia itu diberikan sekarang, kita akan lalai dengan amanah-amanah lain.

Kita terlahir dari keikhlasan, maka mungkin saat ini, Allah ingin mengujinya, masihkah ia bersemi dihati-hati ini. Masihkah niat dakwah tertanam dengan kuat dalam jiwa-jiwa ini

Teruslah berhusnudzon.

Andai ter-takdir kita tetap menjadi mawar yang tersimpan, maka biarlah ia terus menjadi Lu’lu’il Maknun, Ia yang beribadah dalam sunyi, mengabdi dalam sepi, bermanfaat tanpa perayaan dan pengakuan prestasi. Kalaupun Nama kita tak disebut di hadapan khalayak manusia, yakinlah, dilangit sana para Malaikat tengah sibuk mengagungkan Nama itu.

Kalaupun tak ada yang menghiraukan pengorbanan yang kita perbuat, yakinlah, penduduk langit telah menanti-nantikan kedatangan kita dengn pujian-pujian yang mreka punya.

“Ka am tsalil-Lu’lu’il maknun, jazaa’ambimaa kaanuu ya’maluun”

“Laksana Mutiara yang tersimpan baik, Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan” (Al-Waqi’ah 23-24)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *