Daging Paling Enak di Dunia Ihsan masih ingat satu kejadian…

Daging Paling Enak di Dunia

Ihsan masih ingat satu kejadian saat ia bertugas menjadi relawan kemanusiaan di Suriah…

Hari itu diajak syaikh Abu Hasam di sebuah rumah makan kambing, Sembari menunggu hidangan datang keduanya terlibat obrolan ringan…

“Syeikh, orang Suriah lebih senang mana daging kambing apa daging sapi ?

“Kami lebih suka daging kambing

“Beda sama orang indonesia, kami lebih senang daging sapi

“Benarkah?

“Iya, kalau pas idul adh-ha masyarakat kami lebih memilih daging sapi daripada kambing…
“He…he..beda banget sama di sini, orang kurang hobi makan daging sapi.”

“Bicara urusan daging, saya punya tebakan

Daging apa yang paling enak di dunia ? Hampir semua manusia menyukai dan bisa menikmatinya..???

“”Daging kambing.”…

“Salah.”

“Daging sapi”…

“Salah.”

“Daging ayam”…

“Salah juga.”

“Daging unta?

.. “Salah.”

“Daging ikan.”…

“Yaah, salah lagi.”…

“Lalu daging apa kalau semuanya salah?”…

“Daging manusia yaa syaikhi..”

“Hah, daging manusia???”

“Iya, hampir semua manusia kecuali yang dirahmati Allah suka memakan daging manusia lainnya, dengan jalan mengghibah/menggunjingnya…”

“Ada-ada saja kamu, tapi betul juga,

Seperti yang terdapat dalam alquran di surat al hujurat
(ayat:12).

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. [Surat Al-Hujurat 12]

Yaa Allah jagalah lisan-lisan kami dari memakan daging saudara kami sendiri…

Kekasih Allah: Manusia Langit yang Tak Dikenal Sekali-kali jangan pernah…

Kekasih Allah: Manusia Langit yang Tak Dikenal

Sekali-kali jangan pernah merasa diri lebih tinggi, lebih besar, lebih fakih, lebih berilmu, dan lebih banyak amal, karena kita tidak tahu orang di sekeliling kita.

Bisa jadi dia biasa-biasa saja, berpenampilan sederhana, bahkan di masyarakat hanya dipandang sebelah mata, tetapi ternyata berhati mulia dan termasuk pribadi bertakwa di sisi-Nya.

Ada cerita indah dan menarik, sekaligus menakjubkan, ketika membaca kisah yang dituliskan ustadz Salim A Fillah dalam bukunya “Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta” pada halaman 448-449.

Tulisnya dalam buku itu, “Suatu malam, Ustadz Muhammad Nazhif Masykur berkunjung ke rumah. Setelah membicarakan beberapa hal, beliau bercerita tentang tukang becak di sebuah kota di Jawa Timur”.

Ustadz Salim melanjutkan, “Ini baru cerita, kata saya. Yang saya catat adalah, pernyataan misi hidup tukang becak itu, yakni:
(1) jangan pernah menyakiti
(2) hati-hati memberi makan istri.”

“Antum pasti tanya,” kembali Salim melanjutkan ceritanya sembari menirukan kata-kata Ustadz Muhammad.
“Tukang becak macam apakah ini, sehingga punya mission statement segala?”.
Saya juga takjub dan berulang kali berseru, “Subhanallah,” mendengar kisah hidup bapak berusia 55 tahun ini.

Beliau ini Hafidz Qira’at Sab’ah! Beliau menghafal Al-qur’an lengkap dengan tujuh lagu qira’at seperti saat ia diturunkan: qira’at Imam Hafsh, Imam Warasy, dan lainnya.
Dua kalimat itu sederhana. Tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita.

Jangan pernah menyakiti. Dalam tafsir beliau di antaranya adalah soal tarif becaknya.
Jangan sampai ada yang menawar, karena menawar menunjukkan ketidakrelaan dan ketersakitan.

Misalnya ada yang berkata, “Pak, terminal Rp 5.000 ya.” Lalu dijawab,“Waduh, enggak bisa, Rp 7.000 Mbak.”
Itu namanya sudah menyakiti. Makanya, beliau tak pernah pasang tarif.
“Pak, terminal Rp 5.000 ya.” Jawabnya pasti OK. “Pak, terminal Rp 3.000 ya.”
Jawabnya juga OK. Bahkan kalau,“Pak, terminal Rp 1.000 ya.” Jawabnya juga sama, OK.

Gusti Allah, manusia macam apa ini.

Kalimat kedua, hati-hati memberi makan istri. Artinya, sang istri hanya akan makan dari keringat dan becak tuanya. Rumahnya berdinding gedek. Istrinya berjualan gorengan. Stop! Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu. Harap tahu, putra beliau dua orang. Hafidz Al-qur’an semua.

Salah satunya sudah menjadi dosen terkenal di perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Jakarta. Adiknya, tak kalah sukses. Pejabat strategis di pemerintah. Uniknya, saat pulang, anak-anak sukses ini tak berani berpenampilan mewah. Mobil ditinggal beberapa blok dari rumah. Semua aksesoris, seperti arloji dan handphone dilucuti. Bahkan, baju parlente diganti kaus oblong dan celana sederhana.

Ini adab, tata krama.

Sudah berulang kali sang putra mencoba meminta bapak dan ibunya ikut ke Jakarta. Tetapi tidak pernah tersampaikan. Setiap kali akan bicara serasa tercekat di tenggorokan, lalu mereka hanya bisa menangis.

Menangis. Sang bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya, dan dia mempersilakan putra-putranya menikmati kebahagiaan mereka sendiri.

Ustadz Salim melanjutkan, “Waktu saya ceritakan ini pada istri di Gedung Bedah Sentral RSUP Dr. Sardjito keesokan harinya, kami menangis.

Ada banyak kekasih Allah yang tak kita kenal.”

Ah, benar sekali: banyak kekasih Allah dan “manusia langit” yang tidak kita kenal.

*Ustadz Salim A.Fillah

Agar hidup gak gini-gini aja Saudaraku, agar hidup kita gak…

Agar hidup gak gini-gini aja

Saudaraku, agar hidup kita gak gini-gini aja alias ga ada kemajuan, perubahan dan perkembangan maka tip-tip berikut semoga bermanfaat

1. Jadikan keselamatan akhirat sebagai tujuan hidup.

Dari Zaid bin Tsabit rodhiyallohu ‘anhu, Rosululloh saw. bersabda :

“… Barangsiapa yang tujuan hidupnya adalah dunia maka Alloh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan tidaklah ia mendapatkan dunia itu kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang tujuan hidupnya adalah Akhirat maka Alloh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” Ash-Shohiihah karya Al Albani rohimahulloh no. 950

2. Bicaralah yang benar.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Alloh memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Alloh dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. QS. Al Ahzaab ayat 70-71

Jika tidak bisa demikian maka diamlah.

Rosulullah saw. bersabda :

“Katakanlah olehmu ucapan yang baik atau diamlah!” HR. Bukhori no. 6136.

3. Beramal sesuai tuntunan.

“…Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), QS. An-Nisaa’ ayat 66

Semoga 3 perkara ini ada manfaatnya untuk memperbaiki keadaan kita dan kaum muslimin.

*Ust. Ibnu Mukhtar